Jumat, 30 Oktober 2015

jangan dijatuhkan harga diri karena harta, tahta dan wanita

Jangan jatuh akibat tahta, harta, wanita/Pria
ALANGKAH sedih malang dan menderitanya orang-orang ini. Mereka begitu berhasrat untuk memperebutkan target-target yang sejatinya tidak membahagiakan—melainkan malah menjatuhkannya. Apa yang mengutamakan bahkan mentamakkannya orang siang-malam dan akhirnya ketamakan itu menggulingkannya? Itulah tahta, harta, wanita/pria! Dan ada pula yang mengorbankan kehidupan orang-orang yang disekitarnya demi meraih apa yang ia dambakan, tanpa dasar kepentingan agama, atau kepentingan masyarakat pada Umumnya...
Harta, tahta, wanita justru adalah ukuran keutuhan keberhasilah seorang pria. Seorang pria yang berhasil, harus berhasil berharta, bertahta, dan berwanita. Yang menjadikannya gagal adalah bukan harta, tahta, wanita, tetapi yang menjadikannya gagal adalah sikap yang salah. Karena sikap yang salah adalah pembatal keberhasilan apapun.
Pertama, harta. Siapa sih, yang matanya nggak IJO kalo ngeliat uang alias harta??? Saya yakin, sebagian besar manusia.. tidak memandang jenis kelamin....Mengapa jabatan yang mendatangkan tahta diperebutkan dengan segala pengorbanan? Konsekwensinya adalah harta. Ya, harta akan melekat pada jabatan atau tahta. Jabatan akan membuat gaji (salary) meninggi, pendapatan (income) juga membanyak. Kadang, jika tidak hati-hati, rekeningnya semakin gendut, tanpa peduli apakah itu duit halal atau duit haram.
Benar, bukan? Harta itu manis, semanis madu dari kahyangan. Siapapun manusia mengharap memiliki harta yang banyak—cuma, sikap dan cara mendapatkannya yang berbeda. Salah satunya, merebut jabatan atau tahta. Dengan menggenggam tahta, harta akan mengalir dengan sendirinya. Mungkin bagi orang-orang sederhana hal itu bisa dinilai serakah. Namun, memang begitulah manusia, yang hakikatnya memang serakah.
Di sini pintu korupsi sudah terbuka lebar menganga. Korupsi dewasa ini bukan semata menggelapkan uang negara, melainkan juga diperluas hingga penyalahgunaan wewenang dan pengeluaran tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku. Mereka mengira enaknya menjadi pejabat, padahal jika tahu rumitnya, mereka pastilah tidak akan begitu berhasrat. Sekali lagi, korupsi bisa membidik orang setiap waktu.
Kedua, tahta. setelah berharta, laki-laki cenderung ingin berkuasa.. pengen jadi Presiden lah, jadi Mentri lah, jadi Bupati lah.. jadi RT lah.. Wuih.. namanya juga laki-laki.. Banyak banget maunya… Mau di atas, lah.. Mau di bawah, lah.. di samping, lah.. sambil duduk, lah…Tahta itu adalah konsekwensi jabatan atau kedudukan. Nah, tengoklah, sekarang ini jabatan benar-benar menjadi konsumsi paling laris. Jabatan apapun, di institusi manapun atau disekitar kita. Jabatan senantiasa disaingkan dan diperebutkan, bahkan sampai berdarah-darah dan berharga nyawa sekalipun. Ada trik dan transaksi dengan beraneka variasi dan intensitasnya.
Dengan jabatan tertentu, orang memiliki bobot tahta tertentu. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin tinggi tahta dan semakin besar kuasa yang dimilikinya. Keduanya berbanding lurus satu sama lain. Di sana terlibat konsep status dan peran. Status jabatan yang dimilikinya memungkinkan pula perannya membesar, dan tentu saja menggelembungkan kuasanya (Much.Khoiri)
Selama jabatan atau tahta ditunaikan menurut ketentuan yang ada, itulah impian semua orang. Namun, berapa persen pejabat yang bisa amanah sedemikian sehingga dia selalu konstitusional dalam segala tugasnya? Yang banyak adalah mereka yang terjebak ke dalam arus tarik-menarik berbagai kepentingan pihak-pihak lain yang justru membuatnya dilematis.
Yang lurus-lurus saja tak jarang mendapat hantaman sana-sini, apalagi jika seorang pejabat abai terhadap berbagai ketentuan—dia akan mendapat hantaman lebih dahsyat. Apapun caranya bisa dipraktikkan.
Nah, jika manusia sudah menduduki tahta tinggi dan harta melimpah, maka dia sebenarnya sudah berada dalam ujian yang amat berat. Apakah itu? Wanita! (bagi laki-laki), Pria! (bagi perempuan). Makhluk yang satu ini nih yang gak ada habisnya kita bahas.. Kalo berbicara wanita pasti gak lepas dengan kata “cinta“kasih sayang”.. bahkan “sex”.. Misalnya kita berhasil dan bener dalam memilih dan memelihara makhluk ini sih, fine-fine saja.. Bahkan bisa memberikan kekuatan yang luar biasa…SLB hahahay.. Tapi.. Kalo kita gak bijak.. bisa hancur hidup kita mangkane eling eling dollor ....Laksana seorang raja atau ratu, dia merasa diri bisa melakukan apapun—bahkan termasuk “membuka cabang cinta” dengan wanita/pria lain. Di situlah awal kebangkrutannya.
Begitu banyak orang berebut jadi calon legislator (caleg), tanpa sadar bahwa mereka telah memburu kejatuhannya sendiri. Begitu banyak orang berhasrat berebut jadi pejabat daerah, lupa bahwa mereka telah membuka pintu kejatuhannya sendiri. Terlebih, jika akhirnya mereka masuk dalam lingkaran godaan wanita/pria lain, jatuh itu sebuah keniscayaan—tinggal menunggu waktu saja.
Maka, benarlah Abraham Maslow dalam Hierarchy of Needs-nya. Terbanyak manusia menuntut terpenuhinya kebutuhan yang terendah, yakni kebutuhan fisiologis (physiological needs), termasuk makan, minum, seks, dan sebagainya. Namun, jika berlebihan, nafsu memperebutkan kebutuhan-kebutuhan ini pula lah yang akan membawa manusia ke tempat kejatuhannya.
Hanya manusia-manusia yang terpilihlah yang mampu menyikapi tahta, harta, dan wanita/pria sebagai amanah. Mungkin perlu refleksi kembali, jangan cintai sesuatu terlalu banyak, sebab kita belum tahu bahwa yang kita cinta itu ternyata menjadi sesuatu yang kita benci. Kita mencintai dunia dengan sederhana saja. Sederhana bukan ketentuan tapi pilihan bagi yang mampu memaknai hidupnya secara hakikat..sederhana (HS)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tiga perkara yang akan mengiringi mayit, yang dua akan kembali dan yang satu akan menetap. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya akan kembali dan tinggallah amal perbuatannya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5260.
Hadis riwayat Jundub Al-Alaqiy ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5302

Silakan ditambah........hanya untuk diskusi kita .....juga boleh.....diapa apain tulisan ini juga boleh.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang relepan dan pantas