Jangan jatuh akibat tahta, harta, wanita/Pria
ALANGKAH sedih malang
dan menderitanya orang-orang ini. Mereka begitu berhasrat untuk memperebutkan
target-target yang sejatinya tidak membahagiakan—melainkan malah
menjatuhkannya. Apa yang mengutamakan bahkan mentamakkannya orang siang-malam
dan akhirnya ketamakan itu menggulingkannya? Itulah tahta, harta, wanita/pria!
Dan ada pula yang mengorbankan kehidupan orang-orang yang disekitarnya demi
meraih apa yang ia dambakan, tanpa dasar kepentingan agama, atau kepentingan
masyarakat pada Umumnya...
Harta, tahta,
wanita justru adalah ukuran keutuhan keberhasilah seorang pria. Seorang pria
yang berhasil, harus berhasil berharta, bertahta, dan berwanita. Yang menjadikannya
gagal adalah bukan harta, tahta, wanita, tetapi yang menjadikannya gagal adalah
sikap yang salah. Karena sikap yang salah adalah pembatal keberhasilan apapun.
Pertama, harta. Siapa
sih, yang matanya nggak IJO kalo ngeliat uang alias harta??? Saya yakin,
sebagian besar manusia.. tidak memandang jenis kelamin....Mengapa jabatan yang
mendatangkan tahta diperebutkan dengan segala pengorbanan? Konsekwensinya
adalah harta. Ya, harta akan melekat pada jabatan atau tahta. Jabatan akan
membuat gaji (salary)
meninggi, pendapatan (income)
juga membanyak. Kadang, jika tidak hati-hati, rekeningnya semakin gendut, tanpa
peduli apakah itu duit halal atau duit haram.
Benar, bukan? Harta itu
manis, semanis madu dari kahyangan. Siapapun manusia mengharap memiliki harta
yang banyak—cuma, sikap dan cara mendapatkannya yang berbeda. Salah satunya,
merebut jabatan atau tahta. Dengan menggenggam tahta, harta akan mengalir
dengan sendirinya. Mungkin bagi orang-orang sederhana hal itu bisa dinilai
serakah. Namun, memang begitulah manusia, yang hakikatnya memang serakah.
Di sini pintu korupsi
sudah terbuka lebar menganga. Korupsi dewasa ini bukan semata menggelapkan uang
negara, melainkan juga diperluas hingga penyalahgunaan wewenang dan pengeluaran
tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku. Mereka mengira enaknya menjadi pejabat,
padahal jika tahu rumitnya, mereka pastilah tidak akan begitu berhasrat. Sekali
lagi, korupsi bisa membidik orang setiap waktu.
Kedua, tahta. setelah
berharta, laki-laki cenderung ingin berkuasa.. pengen jadi Presiden lah, jadi
Mentri lah, jadi Bupati lah.. jadi RT lah.. Wuih.. namanya juga laki-laki..
Banyak banget maunya… Mau di atas, lah.. Mau di bawah, lah.. di samping, lah..
sambil duduk, lah…Tahta itu adalah konsekwensi jabatan atau kedudukan. Nah, tengoklah,
sekarang ini jabatan benar-benar menjadi konsumsi paling laris. Jabatan apapun,
di institusi manapun atau disekitar kita. Jabatan senantiasa disaingkan dan
diperebutkan, bahkan sampai berdarah-darah dan berharga nyawa sekalipun. Ada
trik dan transaksi dengan beraneka variasi dan intensitasnya.
Dengan jabatan tertentu,
orang memiliki bobot tahta tertentu. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin
tinggi tahta dan semakin besar kuasa yang dimilikinya. Keduanya berbanding
lurus satu sama lain. Di sana terlibat konsep status dan peran. Status jabatan
yang dimilikinya memungkinkan pula perannya membesar, dan tentu saja
menggelembungkan kuasanya (Much.Khoiri)
Selama jabatan atau
tahta ditunaikan menurut ketentuan yang ada, itulah impian semua orang. Namun,
berapa persen pejabat yang bisa amanah sedemikian sehingga dia selalu
konstitusional dalam segala tugasnya? Yang banyak adalah mereka yang terjebak
ke dalam arus tarik-menarik berbagai kepentingan pihak-pihak lain yang justru
membuatnya dilematis.
Yang lurus-lurus saja
tak jarang mendapat hantaman sana-sini, apalagi jika seorang pejabat abai
terhadap berbagai ketentuan—dia akan mendapat hantaman lebih dahsyat. Apapun
caranya bisa dipraktikkan.
Nah, jika manusia sudah
menduduki tahta tinggi dan harta melimpah, maka dia sebenarnya sudah berada
dalam ujian yang amat berat. Apakah itu? Wanita! (bagi laki-laki), Pria! (bagi
perempuan). Makhluk yang satu ini nih yang gak ada habisnya kita bahas.. Kalo
berbicara wanita pasti gak lepas dengan kata “cinta“kasih sayang”.. bahkan
“sex”.. Misalnya kita berhasil dan bener dalam memilih dan memelihara makhluk
ini sih, fine-fine saja.. Bahkan bisa memberikan kekuatan yang luar biasa…SLB
hahahay.. Tapi.. Kalo kita gak bijak.. bisa hancur hidup kita mangkane eling
eling dollor ....Laksana seorang raja atau ratu, dia merasa diri bisa melakukan
apapun—bahkan termasuk “membuka cabang cinta” dengan wanita/pria lain. Di
situlah awal kebangkrutannya.
Begitu banyak orang
berebut jadi calon legislator (caleg), tanpa sadar bahwa mereka telah memburu
kejatuhannya sendiri. Begitu banyak orang berhasrat berebut jadi pejabat
daerah, lupa bahwa mereka telah membuka pintu kejatuhannya sendiri. Terlebih,
jika akhirnya mereka masuk dalam lingkaran godaan wanita/pria lain, jatuh itu
sebuah keniscayaan—tinggal menunggu waktu saja.
Maka, benarlah Abraham
Maslow dalam Hierarchy of Needs-nya.
Terbanyak manusia menuntut terpenuhinya kebutuhan yang terendah, yakni
kebutuhan fisiologis (physiological
needs), termasuk makan, minum, seks, dan sebagainya. Namun, jika
berlebihan, nafsu memperebutkan kebutuhan-kebutuhan ini pula lah yang akan
membawa manusia ke tempat kejatuhannya.
Hanya manusia-manusia
yang terpilihlah yang mampu menyikapi tahta, harta, dan wanita/pria sebagai
amanah. Mungkin perlu refleksi kembali, jangan cintai sesuatu terlalu banyak,
sebab kita belum tahu bahwa yang kita cinta itu ternyata menjadi sesuatu yang
kita benci. Kita mencintai dunia dengan sederhana saja. Sederhana bukan
ketentuan tapi pilihan bagi yang mampu memaknai hidupnya secara hakikat..sederhana
(HS)
Hadis riwayat Anas bin
Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw.
bersabda: Tiga perkara yang akan mengiringi mayit, yang dua akan kembali dan
yang satu akan menetap. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amal
perbuatannya. Keluarga dan hartanya akan kembali dan tinggallah amal
perbuatannya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5260.
Hadis riwayat Jundub
Al-Alaqiy ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda:
Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan
menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan
menampakkan riyanya Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]:
5302
Silakan
ditambah........hanya untuk diskusi kita .....juga boleh.....diapa apain
tulisan ini juga boleh.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
yang relepan dan pantas